Tampilkan postingan dengan label Bakteri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bakteri. Tampilkan semua postingan

E -Coli Serang Eropa, Bagaimana RI Bersiap

Di Jerman didapati 1.733 kasus dengan 17 korban tewas. Pemerintah tunggu investigasi Eropa


Wabah bakteri Escherichia Coli (E Coli) sudah menjangkiti ribuan orang dan menewaskan belasan lainnya di Eropa. Namun, Indonesia sejauh ini belum mengambil langkah drastis untuk mengantisipasi wabah menular ini—seperti melarang masuknya sayuran atau produk makanan lainnya dari Eropa. 
Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu memberi alasan. Menurutnya, masalah ini masih akan dibahas terlebih dahulu bersama Menteri Kesehatan serta Badan Pengawas Obat dan Makanan. Pemerintah juga masih menunggu hasil investigasi yang dilakukan pemerintah negara-negara Eropa.

Bisakah Manuasia Hidup Tanpa Bakteri


Data tentang triliunan bakteri mengerumuni kulit dan seluruh tubuh manusia terdengar sangat menakutkan. Namun ahli biologi mikro Anne Maczulak menegaskan, manusia tak bisa hidup tanpa bakteri. Penulis buku ‘Allies and Enemies: How the World Depends in Bacteria’ ini menjelaskan, manusia tak bisa hidup tanpa bakteri. Sebagian besar manusia mempelajari bakteri dalam konteks penyakit.

Ditemukan, Bakteri Pengganti Pasta Gigi

Peneliti asal Jepang menemukan bakteri yang diproduksi oleh mulut manusia yang justru mampu mencegah pembentukan lubang di gigi.
Peneliti berhasil menemukan senjata baru dalam memerangi kerusakan gigi. Caranya menggunakan enzim yang diproduksi oleh bakteri mulut yang justru mencegah pembentukan plak. Temuan ini membuka peluang pembuatan pasta gigi yang memanfaatkan alat pembasmi plak milik tubuh.

Seperti diketahui, mulut manusia penuh dengan bakteri. Lebih dari 700 spesies hadir di ruangan yang hangat dan lembab, termasuk Streptococcus mutans (S. mutans), salah satu komponen utama plak.

Melekat dengan gigi dalam lapisan tipis yang disebut biofilm, S. mutans mencerna gula dan memproduksi asam yang memakan enamel dan menyebabkan gigi berlubang. Selain S. mutans, bakteri-bakteri lain merupakan tamu yang lebih ramah.
Sebagai contoh, tahun 2009 lalu, peneliti menemukan bahwa S. salivarius, jenis bakteri yang ditemukan di lidah dan jaringan lunak lain di mulut, justru menurunkan perkembangan biofilm S. mutans.

Seperti dikutip dari Sciencemag, 4 April 2011, Hidenobu Senpuku dan rekan-rekannya, biolog asal National Institute of Infectious Diseases, Tokyo, Jepang mengamati zat yang menghadirkan kemampuan mencegah lubang dari S. salivarius.